Friday, September 18, 2020

Sulung

 Hai, perkenalkan, namaku Sulung

dan aku adalah nakhluk ajaib


Ingin curhat? 

Hubungi aku, 24 jam sehari, 7 hari seminggu

Aku akan tersedia

Tak peduli aku sedang lelah, atau sedang bergumul dengan masalahku sendiri

Hubungi saja aku

karena aku Sulung, aku adalah pendengar. 


Bingung memilih?

Tanya saja aku, 24 jam sehari, 7 hari seminggu

Aku akan membantu memilihkan

Tak peduli aku sedang penat, atau sedang bingung memilih jalanku sendiri

Hubungi saja aku

karena aku Sulung, aku adalah pengambil keputusan


Dirumahmu kehabisan sembako? gula? susu? telur?

Minta saja padaku, 24 jam sehari, 7 hari seminggu

Aku akan membelikan

Tak peduli aku sedang repot, atau sedang menghela nafas karena hariku yang berat

Hubungi saja aku

karena aku Sulung, aku punya tenaga robot. 


Pernahkah aku lelah? membutuhkan orang lain? tempat sandaran? 

Tentu, terkadang setiap hari

namun aku Sulung, aku nyaris tak punya waktu untuk cengeng


karena aku si Sulung

aku penanggungjawab masalah dunia. 



Friday, October 4, 2019

Untitled II

Panggil aku pemimpi
Karena impianku memanglah luas
mencapai langit dan udara
tentang diriku
dirinya
dan dunia

Panggil aku kuno
karena berinteraksi dan berbincang lebih kuhargai
membelai dan membaca buku lebih kucintai
daripada sapaan-sapaan tanpa makna
dan penyakit mata karena dunia maya

Panggil aku munafik
Karena aku mandiri, bernyanyi, menari, meraung, bertarung sendirian
namun lemah seketika dibelai puisi cinta

Duhai kamu yang merindu.
Anggap saja ini sebuah siklus
Mimpi, jatuh, mimpi lagi, jatuh lagi, bangkit lagi dengan dewasa dan ksatria
Cinta, kemudian kecewa, dan belajar memaknai cinta sebenarnya, lalu mendapatkan cinta seutuhnya
Semasa patah, masa siramlah, maka tunasnya akan tumbuh mengganti

tegarlah dalam diam
menantilah dengan bijaksana
titip saja cintamu pada angin
dan berharaplah beliau akan menjemputnya di ujung malam



Wednesday, October 26, 2016

Jodohkuuuu.. maunya ku dirimuuuuu...

Guys, alangkah indahnya hidup ini jika perkara jodoh bisa sesimpel lagu Om Anang. Liat seseorang, naksir, trus langsung tau bahwa dia jodoh kita, nikah, hepi ending. Kenyataannyaaaaaaaaa.... perkara jodoh bukan perkara gampang. Tapi jangan salah, yang bikin jodoh itu nggak gampang, most of the time adalah kita sendiri.

What?? Sungguh???

Iyap. Sungguh. Kenapa aku bisa bilang begitu? Jodoh ditangan Allah. Semua orang tau itu. Yang kita sering lakukan adalah, melupakan bahwa untuk menjemput si Abang/Adek Yayang itu, ada kekeliruan yang harus kita luruskan dan ada investasi dunia akhirat yang harus kita lakukan. Otherwise, jodoh akan terus berada di tangan Allah. :-D. Berikut unsur-unsur penghambat jodoh yang aku rangkum dari berbagai sumber:

#1 : Stereotype

Once upon a time, one of my friend, sebut saja namanya Melati, mengeluh tentang urusan percintaanya yang nggak kunjung berujung di pelaminan. duilee.. aku tanya sebabnya apa? padahal setahu aku laki-laki itu baik, pintar, dan yang paling penting selama bersamanya, Melati jadi lebih rajin ibadah. Melati pun menjawab "Mama papa nggak setuju karena dia suku *******". Aku tanya lagi "Why?". Dia jawab "Mama Papa percaya suku ***** tukang kawin, mereka takut aku dimadu". Naah.. Wahai para ortu, gimana anaknya mau cepet kawin kalo ortunya masih kayak gini? 

Dan  bukan hanya ada dalam fikiran orangtua, kita yang masih muda-muda ini pun buanyaaaakk yang masih punya fikiran steteotype. Kalo ditanya "kapan rencana nikah?" jawabnya "pengennya segera, tapi belum ada yang cocok". Ditanya lagi "emang nyari yang kayak mana?" Dijawab "yang baik dari keluarga baik, saleh, pintar". Ditanya lagi "mau nggak aku kenalin? aku punya temen yang pas sekolah dulu paling pinter di kelas, insyaallah keluarganya baik, dia seorang ustadz muda yang.." Langsung dipotong "Jangan ustadz dooonnggg...ntar aku nggak bisa hengot lageeeeeee". Nah loh.. katanya cari yang saleh.. *puyeng

#2: Overestimate/Underestimate sama diri sendiri

Ada buanyak jenis manusia di muka bumi ini, dan beberapa diantaranya adalah orang yang suka ngerasa paling hebat, dan ada orang yang selalu ngerasa paling rendah. Contohnya gini, ada banyak teman-temanku yang sampai sekarang belum menikah, padahal dia sendiri, keluarganya dan teman-temannya udah pada gotng royong mencarikan dia jodoh. Tapi selalu mentok lagi di dia. Alasannya macem-macem. Mulai dari "Masak lulusan S1 sih Tan, aku kan S2. Timpang dong ntar komunikasinya?" trus "Jangan yang lebih muda lah Tan, bisa-bisa aku berasa kawin sama anak remaja" sampai "Beda penghasilan Tan, dia nggak bakal bisa biayain aku, kasian dianya ntar.." yang bikin aku pengen timpukin si temen-temen somse ini pake sendal. 

Nah ada juga orang yang selalu mikir sebaliknya. Salah satu sahabatku (kamu pasti tau kamu siapaaa... hahaha) punya sejarah percintaan yang nggak mulus dimasa lalu, dan berefek ke dia sampai sekarang. Betapa pengennya aku melihat dia bahagia lagi (walaupun dia selalu bilang dia bahagia dengan hidupnya yang sekarang), bersanding lagi, dan bukan sekali dua kali juga beliau ini didekati oleh laki-laki yang mencoba membuka hatinya. Tapi setiap kali dia deket sama seseorang, sang sahabat pun mulai berfikir" This is not gonna work, karena aku mah apah atuh.." Dan setiap kali dia lagi nggak deket sama siapa-siapa, dia juga berfikir "mana ada yang mau sama aku, karena aku mah apah atuh" Ya Salam sahabatku sayang cinta beibeh.. mau nangis kejer rasanya tiap dia ngomong begitu, karena how can she thinks like that while she is such a lovely nice humble beautiful talented girl??
#3. Kurang Investasi

In my opinion, semua unsur-unsur penghalang jodoh yang kita bahas diatas itu adalah manifestasi sekunder dari kurangnya investasi akhirat kita. simpelnya gini, Abang/Adek Yayang itu kan ciptaan Allah. Kalau kita ingin memiliki, ya minta sama yang bikin. Bener nggak? Sadarkah kita? bahwa kita lebih banyak ngecengnya ketimbang shalat dhuha? padahal shalat dhuha itu adalah pelancar rezeki? Sadarkah kita, bahwa kita lebih banyak berkhayalnya ketimbang Tahajud? padahal tahajud adalah saat dimana doa-doa kita sampai ke Allah tanpa hijab? Sadarkah kita dikasih Allah 168 jam dalam seminggu, dan betapa beratnya kita menghabiskan 2 jam diantaranya di majelis-majelis kajian? Dan kita berharap Allah memberi kita jodoh yang super dengan investasi akhirat yang sangat minimal??? Sebegitu merasa hebatnya kah kita?? Ingat ya Kawan, Allah tidak akan menyia-nyiakan hidup hamba terkasihnya yang saleh, baik dan cerdas itu dengan menikahkannya sama orang egois yang berdoa aja males.
Guys.. 
Menikah adalah urusan orang dewasa. Dewasa bukan diukur pakai umur, apalagi harta. Orang dewasa yang siap menikah adalah orang yang dengan segala keterbatasanya dan segenap keyakinannya bahwa Allah akan memberikannya jodoh yang sekufu, berjuang menjadi manusia yang dicintai Allah. 

Mengutip dari sebuah catatan yang ditulis oleh Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani, Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286). 

Ayolah, jika kita masih berfikir bahwa jodoh itu harus suku tertentu, shio tertentu, harus sagitarius, leo atau virgo, harus yang kerjaanya begini dan begitu, tenang-tenang aja ibadah alakadar karena jodoh pasti datang, berarti kita belum dewasa, dan ingat prinsip diatas: menikah adalah urusan orang dewasa.. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.


Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku??







Sunday, October 16, 2016

My Heart is Broken in Pieces..

I used to write everything down.. Selalu, dimasa lalu, menulis menjadi ajang pelampiasan untuk semua perasaan yang nggak bisa diungkapkan, rasa yang nggak bisa dibagi, dan kata yang nggak bisa dirangkai. Kesibukan yang nggak menentu sedikit banyak merenggut aku dari diriku, sehingga terkadang aku merasa yang tersisa dari aku hanyalah orang lain, melakukan segala demi orang lain..

Ah sudahlah. Yang penting sekarang aku menulis. Mungkin nanti kalian akan menyadari betapa aku menulis ini dengan hati yang hancur, diwakili oleh kata yang berantakan dan susunan kalimat yang tumpang tindih. Doesn't matter. Yang penting aku menulis.

4 tahun yang lalu, tak pernah terbayangkan seperti apa rasanya menjadi ibu. Sering sih berkhayal seperti apa nanti kalau aku jadi ibu, tapi hanya sebatas angan saja. 3 tahun yang lalu aku resmi menjadi ibu. Sanju lahir prematur dan umurnya tak panjang, my heart broke in pieces for the first time. Perasaan bahwa adalah ibu yang buruk tak berhenti menghantui bahkan terkadang masih muncul hingga sekarang. Kematian Sanju membuatku berjanji bahwa jika Allah mempercayakan aku seorang anak lagi, akan kucurahkan segenap hati perasaan dan jiwaku untuk mencintainya. 

Dan Allah mengabulkan doaku kurang dari 2 tahun kemudian. . Setelah melalui perjuangan tak mudah selama kehamilan, konsumsi obat anti penggumpalan darah hingga 3 hari menjelang operasi, diet rendah lemak, menghindari keramaian dan berusaha menjadi orang paling masa bodo (agar bisa jadi orang paling bahagia resepnya memang harus jadi orang paling masa bodo) sedunia, belum lagi rawat inap dan injeksi pematang paru, Azzam pun lahir .. Tak terkatakan perasaan ku ketika pertama kalinya aku melihat matanya, yang terbuka lebar dan jelalatan melihat kesana kemari, hanya 1 menit setelah dikeluarkan dari rahimku. 

Seperti yang aku janjikan pada diriku sendiri, aku mencurahkan seluruh hati dan perasaan ku untuk mencintainya, semua kekhawatiran yang sebelumnya menghantui, seperti takut tak mampu menyusui dengan benar, takut tak bisa memandikan dsb, luruh begitu saja begitu aku menyentuhnya. Allah memberi aku kemudahan untuk menyusuinya, menggendongnya, merawatnya, memandikannya, mencintainya..

setelah nyaris sebulan, bergadang tiada henti, merawat bayi tanpa ibu (ibuku wanita bekerja), mertua (beliau meninggal saat tsunami) dan asisten rumah tangga serta tekanan-tekanan yang muncul dari sekelilingku (beberapa hadir dari diriku sendiri) mulai menguasaiku. Aku jadi sensitif. Aku mudah sedih, mudah marah, beberapa kali aku marah karena tidurku yang hanya beberapa jam sehari itu terganggu, dan aku menangis tengah malam sembari menyusui anakku..  aku sangat tahu bahwa aku mengalami babyblue. Pelan-pelan aku mencoba mengatasinya, dengan bantuan suamiku yang selalu meyakinkan aku, bahwa dari sudut pandang manapun aku melihatnya, punya anak adalah anugerah. Aku tahu itu, aku sangat sangat sangat mencintai anakku, namun terkadang aku tak mampu menguasai diri untuk tidak merasa sedih, aku lagi-lagi merasa sebagai ibu yang buruk. mungkin saat itu aku mengalami babyblue yang parah, mendekati depresi, entahlah.. tapi aku bersyukur kami telah melaluinya..

Sampai cuti melahirkan habis, kami belum mampu menemukan solusi untuk perawatan anakku ketika aku bekerja. Asisten sudah dicari-cari tidak ketemu, semua saudaraku bekerja dan setelah kami berkeliling ke beberapa tempat penitipan, kami tak tega menitipkan bayi yang umurnya belum genap 3 bulan di tempat yang tak kami kenal dan diawasi oleeh orang yang juga tak kami kenal. Setelah berdiskusi dengan pihak kantor dan keluarga, kami sepakat bahwa untuk sementara waktu, bayiku akan ikut aku ke kantor. Maka mulailah kami mengangkut ayunan, kasur bayi dan beberapa mainan ke kantorku. Waktu itu kupikir semua akan baik-baik saja namun kenyataannya: tidak sama sekali.

Kantor bukan tempat untuk bayi, aku sharing ruangan dengan 2 temanku, dan ruangan-ruangan lainnya berjarak tak jauh satu sama lain. Ruangan yang tak seberapa besar itu saat itu dipenuhi dengan ayunan dan kasur bayiku, membuat kolega-kolegaku kurang nyaman bergerak. Bayiku harus tidur dan bermain seharian di dalam ruangan yang penuh folder dan debu, aku pun tak leluasa menyusuinya, karena selalu ada orang yang keluar masuk ruanganku, ketika itu terjadi, aku harus buru-buru menyudahi kegiatan menyusuiku. Anakku menjadi marah dan rewel, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Setiap pagi aku membangunkan dan memandikan bayiku subuh-subuh agar tak telat tiba di kantor, dan kami juga harus pulang paling akhir, seringnya sampai malam, karena aku harus menunggu suamiku pulang kerja baru Ia bisa menjemput kami. Aku kasihan sekali melihat anakku, lagi-lagi hatiku hancur. Aku tak tahu harus lari kemana. Aku mulai merasakan tekanan-tekanan lagi. Niat awalku bekerja sembari merawat bayi, tapi aku malah tak bisa mengerjakan satupun. Aku tak bisa bekerja dan hatiku hancur berkeping-keping menyaksikan anakku tidur di kasur disamping folder-folder yang berdebu dan menangis sekeras-kerasnya setiap kali tidur dan menyusuinya terganggu, dan aku tak bisa menyalahkan teman-temanku maka aku menyalahkan diri sendiri.. Lagi-lagi, aku merasa menjadi ibu yang buruk.

Setelah lebih satu bulan aku membawa bayiku ke kantor, tekanan-tekanan dalam kepalaku tak mampu lagi kubendung, aku tak tega melihat anakku. Aku sangat mencintainya tapi aku malah tak mampu memberikannya tempat yang nyaman.  Aku pun menangis sekeras-kerasnya di teras belakang kantor. Aku depresi. Aku merasa sangat sangat buruk. Aku sudah kehilangan satu anak dan ketika itu aku merasa sangat takut Allah akan mengambil anakku yang satu lagi karena aku ibu yang buruk. Sampai akhirnya salah satu teman kantorku memberiku solusi, bagaimana kalau kami menyewa sebuah rumah di dekat kantor, agar aku tak perlu meninggalkan anakku terlalu lama dan terlalu jauh. 

Saran itu membuat kami tinggal selama 1 tahun di sebuah rumah sewa tak jauh dari kantorku. Allah begitru baik, solusi demi solusi datang ketika kami menyea rumah itu. Rumah itu berlokasi sangat dekat dari kantorku, aku menemukan katering di depan rumah sewa itu, dan pengasuh bayiku juga tinggal di sebelah rumah kami. Setelah masa sewa berakhir, kami pindah ke sebuah rumah baru di tengah kota. Allah memberi kami kemudahan sehingga kami bisa membeli sebuah rumah atas nama kami sendiri. Azzam pun sudah besar, maka kami menitipkannya disebuah day care tak terlalu jauh dari rumah. Aku juga terus belajar dan belajar menjadi ibu yang baik. Anakku tumbuh sehat dan ceria, ditengah suasana yang kami buat senyaman mungkin baginya.. 

Namun tadi malam adalah mimpi buruk buatku dan anakku, mungkin juga bagi suamiku. Beberapa hari terakhir ini Azzam tidur sangat larut. antara pukul 10.30 - 11.00 malam, padahal biasanya dia tidur jam 9 malam dan bagun jam 7 pagi. Entah aku terlalu lelah atau terlalu banyak tekanan di kantor, tadi malam aku memarahi anakku, setelah 2 jam berusaha menidurkannya namun ia tetap berkeras ingin bermain, jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Aku tak tahan lagi, aku membanting pintu kamar dihadapannya dan berteriak padanya. Astaghfirullah.. segera setelah itu aku menyesal dengan penyesalan yang amat sangat, aku meminta maaf padanya namun ia sudah terlanjur menangis sangat keras. Ya Allah.. hatiku hancur.. jahat sekali aku melalukan itu pada anak berumur 20 bulan?? Setelah sekian lama tak kurasakan, perasaan itu muncul lagi. Rasa menjadi ibu yang buruk. Aku memeluknya, meminta maaf dan menggendongnya, mengusap kepalanya dan membacakan selawat, ia pun tidur dengan wajah basah oleh air mata setelah menangis selama satu jam. Azzam bukan anak yang cengeng, ia tak suka menangis, namun melihatnya menangis selama itu, aku sadar betapa aku sudah sangat melukai perasaannya.. Pukul 2 pagi ia terbangun dan menangis keras selama satu jam. tak pernah aku melihatnya sesedih itu.. aku benar-benar merasa jahat.. Aku terus meminta maaf sampai ia tertidur..

Ah entahlah, padahal aku tahu bahwa anak adalah titipan. Dan Allah menginginkan kita menjaga titipan tersebut dengan baik, namun ada saja kejadian-kejadian yang membuat kita melanggar janji kita untuk selalu menjaga anak kita dengan baik, sebagian besar didasari oleh alasan-alasan yang sama sekali bukan salah anak kita..

Hari ini aku sangat ingin bersamanya, bermain dengannya, menyuapinya, mengungkapkan cintaku padanya seharian.. hatiku teriris ketika meninggalkannya di day care tadi pagi, karena sungguh aku ingin menghabiskan waktu hanya dengannya hari ini..

Bantu aku Allah.. bantu aku menjadi Ibu yang lebih baik..


Monday, August 22, 2016

Letter to Omran


Dear Omran Daqneesh
Assalamualaikum sayang..

I hope you are doing well and always blessed by Allah..

I just saw your picture in the internet and read a little story about you, it seems you're famous now :-) I hope those who share and read your story are not only do that to gain "like" as much as possible, or use your picture only to rich themselves, I hope they support you and pray for you..

Dear Omran,
Have I told you that I have a little son? his name is Azzam, he is 18 months old now. When I cried to see video about you, he came and wipep my tears, I know he also love you, amaze by your brave and wishing you all the best, although he could not say it yet.

Omran Sayang..
If only I could, I would take you and every children in your country to my house, I will take care of you, love you, show you the beauty of this world, and my husband will take you the mosque so that you can learn to Shalat and reading Qur'an. Then you can play with Azzam, you will go to school, study then you will grow as a kind-hearted and iman-full kind of person.

Omran Sayang..
Despite you're far away from me, believe me that I do pray for you, I do wishing you all the best, I do believe that among million people in this world, there are still good people, those who can't sleep at night and think the best solution of your problem, then come to save you, your friend, family and country. You may lost your kite, toys and candy due to the war, but I do believe that there's always rainbow after rain and once its come, you will get your childhood back.

Insyaallah..
Thursday, June 30, 2016

Setetes Pelipur Untuk Lara Ilara



 

Seorang balita tampak asyik bermain dengan gelas-gelas plastik di depan gubuknya. Bajunya lusuh, rambutnya kusut dan kulitnya legam, sebagai anak yang tinggal di perkampungan pemulung, penampilannya tampak wajar, sama seperti teman-temannya yang juga tinggal di lokasi yang sama. Namun ada yang berbeda, balita itu tak pernah tersenyum.

Ialah Ilara Mulya, umurnya 3 tahun. Seiring dengan namanya, hidup Ilara seolah selalu didera lara. Terlahir di keluarga pemulung, Ilara sudah biasa dibawa ke tempat-tempat kotor sejak bayi, menghabiskan waktu menemani orang tua dan neneknya memulung, berteman debu, asap dan bakteri.
Saat umurnya 1 tahun 3 bulan, ayahnya tewas dibunuh ketika sedang memulung di taman sari. 44 hari kemudian, ibunya kabur dari rumah karena tak tahan hidup menderita, meninggalkan Ilara bersama neneknya yang juga sangat miskin. Sejak itu, Ilara berhenti tersenyum.

Nenek Ilara juga adalah seorang pemulung, sama seperti orang tuanya. Setiap hari sang nenek membawa Ilara serta saat bekerja, Ia tak tega meninggalkan Ilara dirumah, karena anak-anaknya yang lain juga memulung. Kini sang nenek tak mampu lagi bekerja maksimal, sebelah matanya hancur terkena patahan kayu saat ia sedang memulung sebulan yang lalu. 

Beberapa bulan yang lalu petugas survey dari sebuah lembaga internasional datang ke desa tempat Ilara tinggal untuk keperluan pendataan calon penerima beasiswa, ia mewawancarai nenek Ilara dan meminta data-data ilara,mencoba untuk mengetuk pintu hati dermawan yang mau membantu biaya Ilara ketika ia sekolah nanti. Dua minggu yang lalu, oleh lembaga yang sama, Ilara diajak berbelanja baju baru, agar ia tampak bersih di hari lebaran nanti, memberi setetes pelipur bagi lara Ilara.

 Lembaga itu bukan satu-satunya, uluran bantuan demi bantuan senantiasa mengalir dari mereka yang tulus. Meski belum mampu melepaskan Ilara dari rantai kemiskinan, namun para penolong yang murah hati sedikit banyak telah meringankan beban Ilara dan juga pemulung-pemulung yang lain. Namun satu yang belum mampu mereka lakukan, mengembalikan senyum Ilara.



Monday, April 25, 2016

It was seem so right..

Aku yakin semua orang pasti pernah berbuat salah dan merasa menyesal. Efek dari penyesalan ini yang berbeda pada setiap orang. Ada yang menyikapinya dengan tenang dan menjadikannya pelajaran, an dan ada juga orang yang berlarut-larut dalam penyesalannya sehingga memutuskan untuk melakukan hal-hal bodoh. People changes, seiring berjalannya waktu, kedewasaan orang pun (harusnya) bertambah. Tapi ada juga orang yang waktunya berjalan mundur, yaitu orang yang jelas semakin hari semakin banyak berbuat salah. Ada juga orang yang waktunya membeku, yaitu orang yang selalu mengulang-ulang kesalahan yang sama walaupun kesalahan itu sudah membuatnya jungkir balik beberapa kali.

Apa penyesalan terbesarku? Banyak. Banyak sekali perbuatan dan sikapku di masa lalu yang membuatku malu bahkan hanya untuk mengingatnya. Ya Allah.. semoga Allah membuka pintu ampun seluas-luasnya.

Many years ago, semua harus tentang aku. People was giving me too much claps, and so too much praises, makin me living in a "me first" attitude and too much pride. Tanpa sadar aku semakin jauh dari orang-orang yang benar-benar peduli padaku dan semakin dekat pada diriku sendiri. Dalam setiap perkumpulan, aku menceritakan tentang aku. Dalam setiap pertemuan, aku memuji diriku. Waktu itu aku merasa menjadi orang hebat tanpa sadar bahwa aku sebenarnya sedang menjadi orang egois. It was seems so right.., sampai kapan aku menjalani hidup seperti itu? sampai pada suatu saat, sahabatku  mengatakan sesuatu yang membuatku shock. "Kamu sombong. Kamu selalu bilang kamu tidak suka orang sombong, tamu malah menjadi lebih sombong dari orang-orang yang kamu sebut sombong", katanya..

Bertahun-tahun kemudian, bekerja dan melanjutkan sekolah membuatku berinteraksi dengan banyak orang. Perlahan tapi pasti aku mulai belajar menghargai orang lain, mendengarkan cerita mereka, mengurangi cerita tentang aku, memperdulikan mereka dan mengurangi rasa peduliku pada diri sendiri, berusaha sekuat tenaga membuat semua orang bahagia, meski aku tak bahagia, Jungkir balik mempertimbangkan perasaan orang tanpa peduli perasaan sendiri, seolah aku balas dendam pada diriku sendiri karena telah bertahun-tahun jadi orang egois. Waktu itu aku hanya ingin jadi orang baik, tanpa sadar bahwa sebenarnya aku sedang menjadi orang bodoh. It was seems so right.. kapan aku menyesalinya? Sampai aku dikhianati oleh orang-orang yang aku percaya, dan ketika aku kehilangan anakku..

Nowadays, aku menjalani hidupku dengan berusaha menjadi orang bijak, walaupun dengan sifat alamiahnya sebagai tempat salah dan lupa,  manusia takkan pernah benar-benar menjadi bijak. Tapi aku percaya bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Hidup mengajarkan kita menjadi dewasa. Allah tidak memberi kita umur untuk dijalani sia-sia, namun untuk terus belajar dan belajar.. Iqra' sampai akhir nafas kita..

Allah maha baik, aku dipertemukan dengan begitu banyak orang dengan keunikannya masing-masing, aku diuji dengan berbagai macam ujian sehingga aku banyak belajar..

Apakah sekarang menjudulkan diriku sebagai orang baik? Bukan. Aku adalah orang yang sedang belajar dan terus belajar menjadi orang normal, orang yang dicintai Allah, karena predikat "orang baik" akan sangat tergantung pada penilaian manusia, dan menurutku, bergantung pada penilaian manusia adalah hal paling melelahkan di muka bumi.
Wednesday, March 2, 2016

Postingan Pencegah Lumut : Motherhood



Hello thereee.. setelah berabad-abad tidak menulis, I really hope that blog ini masih mau dibaca orang. Selain alasan sibuk tak menentu, too much thinking juga ternyata mempengaruhi jumlah postingan. Misalnya aja ketika ada satu peristiwa yang menurut aku inspiratif, nah pas mau ditulis, aku malah mikirin ini tulisan mau dibikin konsep yang kayak mana ya? mau dibikin tulisan biasa, naratif, tips atau cerpen ya? pikiran-pikiran kayak gitu saking terlalu dipikirin malah bikin jadi buntu, akhirnya menyerah dan ga mau nulis.

Dan itu udah terjadi lamaaaaa sekaliiiii..

One of my friend said, bahwa kalo emang udah niat mau nulis, maka apapun ya tulis aja, sesampah-sampahnya tulisan itu, tetep aja itu tulisan kita, ga usah terlalu dipikirin, then I decided untuk menulis lagi. Tengkiuuuu..

Aannnnnddddd.. Ohmaigat hari ini aku punya a bunch of words yang berjejal dalam kepalaku dan harus segera disalurkan. menimbang dan menilik buanyaknya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama setahun belakangan ini. So I guess I am gonna have beberapa tulisan dalam beberapa hari ini (kecuali tiba-tiba terserang virus malasria.hiihihihi)

First, mari kita bicara tentang motherhood. Sejak menjadi seorang Ibu, aku merasa banyak sekali hal-hal kecil yang sebelumnya nggak pernah aku perdulikan mendadak menjadi begitu penting, sama hal nya kayak aku sebelumnya nggak pernah duga,bahwa hal-hal sepele yang dulu cuma aku anggap angin lalu, mendadak terasa sangat mengganggu setelah aku jadi ibu.

Contoh, posting foto anak everywhere anywhere anytime. Dulu aku suka heran kenapa ya orang-orang suka banget posting foto anaknya di medsos atau sekedar DP BBM, padahal pose anaknya tuh menurut aku (dulu) biasa banget, nggak ada kece-kecenya. misalnya anak lagi nungging. anak lagi ileran. anak lagi belepotan makanan. Nggak semanis anak2 di iklan lah. Ternyataa..pas aku menjadi ibu, aku baru menyadari bahwa menyaksikan pertumbuhan anak itu adalah suangat luar biasa amazing sekali and I dont wanna miss a thing!!. Aku memotret nyaris segala kegiatan Azzam, nggak peduli seaneh apapun kegiatan dia, aku juga memposting foto azzam yang menurut aku mencerminkan pertumbuhannya, ya ampun kangen banget aku sama anak itu padahal kantorku cuma berjarak 4 menit dari rumah dan kami barusan ketemu pas jam makan siang :-D

Hal lainnya adalah komen-komen tentang anak dan sikap orang-orang pas ketemu sama Azzam. Dulu sering banget aku baca-baca curhatan tentang ibu-ibu yang sebel karena anaknya dikatain kurus, nakal dsb. Dulu menurut aku selama anak itu sehat dan ceria, mau orang ngatain anakku kurus ya cuekin ajah., Ternyata ngomong emang lebih gampang daripada pelaksanaan. Pas beberapa bulan yang lalu ada yang ngatain anakku kurus, aku langsung angkara murka. Begitu juga kalau Ibuku komen "Cucu Mami kok nggak keren bajunya hari ini", aku langsung muntab mustajab. Pas lagi acara keluarga dan sodara-sodaraku sibuk sama anak tetangga padahal Azzam juga ada disitu, aku langsung sedih bermuram durja, merasa anakku ga dipeduliin sama sodaranya sendiri, sampe aku jadi  males bawa Azzam kerumah si sodara itu kalo si anak tetangga lagi ada disitu. Kok aku jadi gampang banget terganggu sama hal-hal yang aku anggap mendeskriditkan anakku ya? aku yang lebay atau semua ibu-ibu kayak gitu? 

Tentang kasus-kasus di tivi atau berita onlen yang didalamnya ada anak-anak atau bayi-bayi yang terluka baik fisik maupun mental pun bisa langsung bikin aku nangis. Many times aku rasanya pengen mengadopsi semuaaa bayi-bayi yang dibuang ortunya atau ortunya miskin atau terlahir di wilayah yang krisis ekonomi dan politik itu dan aku rawat baik-baik.

Anyway, motherhood itu memang unik dan sangat amazing. It has changed me and changed my life. Aku selalu percaya bahwa every women may have a baby tapi nggak semua perempuan bisa jadi Ibu. Jadi Ibu butuh spesifikasi yang lebih dari sekedar bisa hamil dan melahirkan. Menjadi Ibu bahkan nggak ada hubungannya sama hamil dan melahirkan. Buanyaak sekali perempuan yang menelantarkan anak kandungnya dan anak-anak itu kemudian dirawat dengan penuh cinta sama Ibu yang nggak pernah mengandung dan melahirkan mereka.

Kalo diminta untuk menjelaskan apa spesifikasi untuk menjadi ibu, aku juga nggak bisa menjelaskan, menurut aku selama perempuan itu punya cinta dan kasih sayang, maka dia layak jadi ibu. Karena cinta dan kasih sayang itu yang akan menuntun kita untuk melakukan dan mengusahakan yang terbaik buat anak kita. 

Ah Azzam anak cinta pudding stroberi saus vla coklat unyu unyu.. thank you for trusting me to be your mother.. I love you to the galaxy EGS-zs8-1 and back.

Monday, October 26, 2015

Ada Apa Dengan Dunia?

Langitku tak lagi biru..
Kini warnanya kelabu
Abu-abu seperti warna rumah minimalis
Tak manis, melainkan miris..

Disudut negara yang berbeda
Bayi-bayi kembali ke Pencipta
Terapung di laut
Menjemput maut
Memang sudah ajal,
Namun juga sebab Dajjal
Dajjal bernama perang

Ada apa dengan dunia?
Dimana semua manusia?
Yang jahat itu, yang serakah itu, yang membunuhi itu bukan manusia
Dimana semua manusia???

Sementara manusia yang tersisa mencoba menarik mereka yang nyaris terbenam
Mengulur tangan yang juga mulai kurus dan keriput dimakan keserakahan saudaranya sendiri

Ya Allah..
Ada apa dengan dunia??




Monday, October 20, 2014

WUUUUFFFFFFHHHHHH..

At Glance Report 2014
3rd Quarter Report 2014
Progress Report of EE Program
Loan Disbursement Document

Aku menatap catatanku dengan nanar. Semua laporan-laporan itu beberapanya sudah melampaui deadline, dan aku sudah menghiba-hiba line manager untuk memberiku sedikit waktu lagi. Toh bukan salahku. Sebagai orang yang ditunjuk untuk mengirimkan laporan kompilasi setiap bulan, beberapa keterlambatan seringkali disebabkan karena telatnya laporan yang aku terima dari lapangan. 

Baru saja kepalaku mulai merancang time table untuk menyelesaikan semua deadline itu, satu email masuk. Line manager lagi.

" Sister Intan, please prepare the workplan of your program and send me by the end of october"

Ya salaaaaammmm.. 

Dengan mengusap perut, aku berbisik " Sabar ya sayang, temenin Umi kerja, maaf ya sayang kalau capek.."

Seringkali aku berfikir " Kayaknya enakan jadi Ibu Rumah Tangga" .

Eits, benarkah?? Sungguh aku galau juga. Mendengar cerita teman-temanku yang IRT sejati, jadi stay at home Mom juga tidak lebih mudah dari menjadi working mom. Bekerja dari subuh sampai larut malam, mempersiapkan segala urusan rumah tangga, belum lagi memutar otak untuk mengatur semua pengeluaran yang sumber dana (rutin) hanya satu , sama sekali tidak terdengar mudah. Temanku yang IRT pernah berkata "Kamu enak Tan, pendapatan dua sumber, mau budgetin macem-macem ga pake pusing". Lah aku justru berfikir dia yang enak. Ga usah mikirin deadline setiap masa, bisa masak masakan kesukaan suami setiap hari, dan bisa membesarkan anak dengan optimal.

Memang sih, semua itu tergantung pribadi masing-masing. Kalau selalu bercermin pada kondisi orang, maka kita akan selalu merasa kondisi oranglah yang lebih baik. 

Padahal kalau dihitung-hitung, tak cukup angka untuk menghitung nikmat. Wuffhhh.. muhasabahnya harus dibenerin nih, supaya tidak mengeluh terus. Jadi Working Mom atau Stay at Home Mom, selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap keputusan yang kita ambil, ya kan?



Friday, August 29, 2014

Sekelumit Kisah Tentang Ijaliskus

Ini adalah kejadian nyata, kisah fakta, bukan fiktfi, yang terjadi beberapa minggu yang lalu. beberapa dari kalian yang pernah membaca dongeng karyaku yang berjudul "ksatria sixpack", pasti tak asing lagi dengan tokoh utama cerita tersebut, yaitu Ijaliskus, atau yang dalam dunia nyata bernama Shafrizal. Ia adalah salah seorang teman sekantorku yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan tak faham apa itu Play Station. Dan ini, adalah sekelumit kisah tentang beliau..

Pada suatu hari, ketika Ijaliskus sedang melakukan tugasnya di lapangan.

Intan   : (menelpon). Bang Ijal, nanti sembari balik ke kantor tolong belikan kertas HVS ukuran folio satu kotak ya.

Ijaliskus : Bhaaiikk.. Akhan shaya lhaksanakhan (sumpah gaya bicara ala Aceh Belanda kayak gini bukan fiktif)

Intan : Ohya, jangan lupa minta kwitansi. Nanti uangnya diganti di kantor.

Ijaliskus : Okhheeyy..

Beberapa puluh menit kemudian, Ijaliskus kembali ke kantor menenteng plastik item.

Ijaliskus : Inhi phesanannyaa..

Dan friends,  Ijaliskus, dengan muka sumringah, merogoh plastik hitam tersebut dan menyerahkan segepok kwitansi kosong ukuran besar..

Intan : #termangumangu
Tuesday, August 19, 2014

ZAZIZUZEZO BALADO ( Balada Zazizuzezo pake ejaan bahasa Padang dan grammar bahasa Inggris)


" Akulah, Zazizuzezo, pangeran bergigi busuk. Aku datang untuk mengambil mainan kaliaaaannn.. HUWAHAHAHAHAHAHAHAHA..."

Itulah slogan khas Zazizuzezo yang masih aku ingat sampai sekarang. Bukan hanya itu, aku bahkan hafal penampakan fisiknya (buaya coklat dengan jubah drakula dan pashmina merah tersampir di punggungnya kayak supermen), latar belakang hidupnya (Dulu hidupnya sangatlah miskin, ortunya tak sanggup membawanya ke dokter gigi dan tak sanggup beli maenan, sehingga Ia terpaksa menjalani nasib sebagai makhluk bergigi busuk dan dimasa dewasa entah bagaimana caranya bisa jadi pangeran, tinggal di puri dan punya kebiasaan mencuri maenan anak-anak), pembantu setianya (tokoh berambut putih mirip Einstein, hidup di lab dalam puri dan suka menciptakan alat-alat canggih), kebiasaannya (nonton anak-anak maen dari monitor di purinya dan meluncur ke TKP dengan maksud mencuri maenan), bahkan ending cerita di setiap episode (gagal mencuri, lari tunggang langgang, menerobos masuk ke puri dan diakhiri dengan  menabrak si Einstein (mengabaikan fakta ilmiah bahwa keledai saja tak mau jatuh dua kali di tempat yang sama, apalagi Einstein, namun si Einstein selalu dan selalu dan selalu sedang berada di balik pintu ketika ditabrak)).

Friends, inilah sekelumit sejarah, mengapa blog ini bernama Zazizuzezo.

Berawal dari serial kartun yang selalu aku tonton setiap hari pada zaman masa mudaku dulu, aku menjadi agak terobsesi dengan Zazizuzezo. Padahal aku tahu dia tokoh antagonis, namun entahlah, mungkin juga didasari kenyataan bahwa aku juga bergigi busuk (Adek-adek.. jangan dibiasain tidur malam ga gosok gigi ya.. tar jadinya kayak Tante..), aku merasa senasib dengannya, karena itulah Ia begitu membekas. Itu alasan sekundernya.

Nah alasan primernya adalah yang paling absurd : Sedetil apapun aku mengingat Zazizuzezo dan menceritakannya kepada orang lain, orang-orang menatapku dengan tatapan kasian dan menganggapku berkhayal. Sahabat, teman sekelas, tetangga masa kecil, semua beranggapan demikian. Well, ga semua sih, ketika aku menceritakan pada suamiku perihal Zazizuzezo dan betapa orang-orang menganggapku sableng, pria sipitku tercinta yang baek budi itu menanggapi sambil menunduk "Kami dulu ga punya tipi..".Ah, aku jadi merasa bersalah..

Lelah dianggap mengada-ngada membuat obsesiku pada Zazizuzezo semakin menjadi. Membuktikan eksistensi Zazizuzezo mendadak menjadi misi yang begitu penting, sama pentingnya seperti segera pipis begitu kebelet.

Demi misi tersebut, aku mengabaikan pendapat teman-temanku dan beralih ke golongan berikutnya, yaitu golongan pecinta kartun. Setiap kali bertemu dengan orang-orang seperti itu, aku menanyakan apakah mereka pernah, sedang atau paling tidak tahu sedikit tentang Zazizuzezo. Yang aku harapkan adalah dukungan. yang aku dapatkan adalah ucapan "Wah, hayalanmu boleh juga". Dueeenggg..

Tiba-tiba aku teringat, dahulu kala, setiap kali aku nonton Zazizuzezo, aku selalu ditemani oleh adikku. Meski harapanku tipis, mengingat selisih usia kami yang hampir 8 tahun (maksudnya pas aku SD kan berarti dia masih bayi), aku tetap meminta dukungannya. Dan, pas, tepat seperti sudah kuduga. Adikku menyeringai ala serigala, menujuk mukaku dan cekikikan "hihihihihihihhihihihihihihihihihi"..

Sebagaimana orang-orang lain yang nyaris kehilangan harapan gara-gara selalu dianggap berkhayal, harapanku tinggal Mbah Gugel.

So, I tried. Several times. Hasilnya? Berputar-putar antara "Showing result of Zazizuzezo, no result for zazizuzeo" atau "Please check your spelling". Itu belum yang paling parah. Pernah diujung-ujung harapan, aku mencoba mencari Zazizuzezo di youtube. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah beberapa icon video dengan judul dalam tulisan Jepang. Tak perlu bisa baca tulisan Jepang untuk tahu bercerita tentang apakah gerangan video-video dengan icon gadis tak tahu malu yang hanya bertutupkan secarik kain tipis dan seutas tali seperti itu. Fiuuhh..

Sebenarnya aku nyaris sableng beneran, aku hampir-hampir percaya bahwa Zazizuzezo itu tak lebih dari sekedar khayal, sekaligus tak percaya kemampuan berkhayalku bisa sekumplit itu. Namun, ah ya sudahlah. Apa boleh buat, fakta tak dapat kutunjukkan, bukti tak dapat kupersembahkan. Maka kuterima saja nasib ditertawakan orang sekampung.

Kawan, kalian saksinya...

Melalui tulisan ini aku mengadakan sayembara. Barang siapa yang bisa membantuku menunjukkan dan membuktikan eksistensi Zazizuzezo, jika dia perempuan muda menawan dan mandiri, akan kujadikan adik ipar. Dan jika dia adalah lelaki muda menawan dan mandiri, akan kujadikan sepupu ipar. Namun jika mereka sudah ada yang punya, akan kubalas kebaikan itu dengan sekotak Momogi.

Trust me.. I promise..





Monday, May 12, 2014

Dari Mama, Untuk Sanju..


Nak,
Apa kabar? Ini Mama.. Mama sangat rindu sama Sanju.. Sanju sehat-sehat kan? baik-baik kan? Mama harap Sanju bahagia dan selalu dalam lindungan Allah..

Nak,
Sepanjang hidup Mama, Mama selalu berfikir (dan selalu berusaha menganggap) bahwa Mama adalah orang yang bahagia. Alhamdulillah, nikmat Allah begitu banyak dan tak ada satupun yang patut Mama dustakan. Bahkan semua masa lalu, masa kelam, pengalaman-pengalaman buruk, semua Mama anggap hadiah dari Allah, agar Mama belajar menjadi manusia yang lebih baik. Intinya, Mama bahagia. Saat Papamu mengajak menikah, kebahagiaan Mama berlipat ganda. Papamu yang baik, sabar, tulus.. sungguh Mama merasa sebagai perempuan paling bahagia di dunia..

Ketika tak lama kemudian kamu hadir, Mama dan Papa sampai pada puncak bahagia yang tak pernah kami rasakan sebelummya, sehingga kami bingung harus bereaksi bagaimana ketika membaca hasil testpack. Bahagia yang membuncah menguasai hati kami sehingga Mama merasa jantung Mama hampir meledak. Bahagiaaa sekali Nak, membayangkan insyaallah tak lama lagi, seorang bayi, cahaya mata Mama dan Papa, akan hadir ke dunia. Seketika itu juga Mama dan Papa sepakat memanggilmu Sanju, kependekan dari Sandy Junior. Mama sama sekali tak keberatan kamu dipanggil dengan nama Papamu, karena Mama memang sangat berharap kamu mewarisi kepribadian Papamu, dan kalau bisa, warna kulitnya juga. hehehe..

Kehadiranmu dalam perut Mama adalah pengalaman yang sangat sangat sulit dilukiskan. Mendadak hidup Mama berubah. Mual dan pusing terasa begituu nikmat. Nyeri tulang ekor yang Mama rasakan ketika kamu mulai tumbuh besar pun terasa begituuu membahagiakan, karena Mama tahu, semua sakit itu adalah pertanda bahwa kamu tumbuh dengan baik..

Setelah melewati masa-masa 3 bulan pertama, Mama mulai enak makan, karena mual yang semakin berkurang. Namun ada yang aneh, Mama jadi cintaaaa sekali sama buah Pir. Mama bisa menghabiskan 1kg Pir dalam sehari, sampai Papamu geleng-geleng kepala. Sebaliknya, Mama jadi benciii setengah mati sama nasi, mencium aroma nasi yang sedang dimasak pun bisa membuat kepala Mama serasa berputar-putar. Namun demikian, Mama berusaha untuk menggantikan nutrisimu dengan jenis makanan lainnya, sayuran, buah, vitamin, susu, roti, apapun nak, yang penting kamu sehat..

Ketika umurmu memasuki 16 minggu, teman-teman Mama mulai berkomentar tentang kepribadian Mama yang mendadak aneh. Mama yang dikenal tukang dandan di kantor, sedikit demi sedikit mulai terlihat cuek. Mama tak pernah lagi memakai riasan mata. lama kelamaan, lipstik pun mulai lupa Mama pakai. Beberapa minggu kemudian, Mama mulai berangkat kantor hanya dengan pulasan bedak tipis, dan jilbab asal kancing. Semua aksesoris kewanitaan tak terjamah lagi oleh Mama. Awalnya Mama tak menyadari ada yang aneh, sampai teman-teman kantor Mama mulai protes. dan bukan itu saja, Mama pun mulai agak galak. hehehehe.. Teman-teman Mama memprediksi Mama mengandung anak laki-laki.

Saat usiamu 20 minggu, hasil USG menunjukkan bahwa Mama sedang mengandung anak laki-laki. Wah, Mama bahagiaa sekali. Papa juga. kami memang berharap kamu lahir sehat dan selamat, tak peduli apapun jenis kelaminmu. Paman-pamanmu juga tak kalah semangatnya. Yang satu tak sabar ingin mendaftarkanmu di Klub Tarung Drajat, dan satu lagi ingin mendaftarkanmu ke Klub Liverpool. The grandparents? semua berebut ingin membelikanmu peralatan bayi.

Namun ditengah kebahagiaan itu, Allah menguji kita, kakekmu jatuh sakit dan beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Mama, Papa dan nenekmu mondar-mandir bergantian menjaga kakekmu di rumah sakit. awalnya semua baik-baik saja, sampai Mama mengalami pendarahan.. Ya Allah nak, Mama takuuuttt sekali. Mama takut sekali terjadi apa-apa pada kamu. Menuruti perintah dokter, Mama pun beristirahat dirumah, bahkan Mama dilarang ke rumah sakit menjenguk kakek karena Mama harus bedrest. Alhamdulillah, setelah beberapa kali dirawat, kakekmu bisa pulang kerumah, walau kondisinya masih lemah. Mama pun berkurang stressnya.

Nak,
Memasuki usiamu 22 minggu, rumah kita mulai rame, ada banyak sekali acara adat yang diselenggarakan untuk menyambutmu.  Mulai dari 7 bulanan yang mengundang nyaris semua handai tolan dan tetangga, sampai acara 7 bulan khusus keluarga besar, dan acara 7 bulanan khusus keluarga inti. Semua kita jalankan dengan hati bahagia, begituuu banyak orang yang mensyukuri kehadiranmu Nak.. Mama dan Papa apalagi, kami seperti terbang ke langit saking bahagianya.

Tak terasa, kamupun bertambah besar. Usiamu sudah 27 minggu. Mama menyimpan semua poto USGmu. Pertumbuhanmu bagus, organ-organmu lengkap, jaringan otakmu normal, dan kamu aktif sekali. Ini adalah masa-masa paling membahagiakan bagi Mama dan Papa. Kami membacakan ayat-ayat Al Quran sebelum tidur, agar kamu tidur nyenyak. Kami juga mulai membahas pola pengasuhanmu nanti. Namun yang paling membahagiakan adalah kamu punya respon yang sangat baik. Setiap Papa mengelus perut Mama, kamu menendang-nendang dengan kuat, begitu juga setiap kali Mama memanggil namamu, kamu bergerak lincah. Mama bahagiaaa sekali setiap merasakan gerakanmu. Sangat-sangat bahagia.

Ketika usia kandungan Mama 27 minggu, Mama mengalami gatal-gatal di sekitar perut. Beberapa orang mengatakan bahwa itu sangat wajar, karena perut yang membesar menyebabkan kulit mulai pecah dan membentuk selulit, selulit itulah yang mengakibatkan gatal. Semakin hari, gatalnya semakin parah. Bercak merah bentol-bentol seperti digigit semut mulai muncul di perut Mama. Kebetulan itu sudah waktunya kamu cek di dokter, maka Mama dan Papa pun pergi ke dokter kandungan yang kata teman-teman Mama alat USGnya lebih bagus dari dokter yang biasa Mama kunjungi. Sekalian ingin melihat kondisimu dan berkonsultasi tentang hal-hal lainnya. Setelah di USG dan diperiksa seperti biasa, dokter menanyakan apa keluhan Mama. Mama menyampaikan keluhan tentang kulit perut mama yang gatal-gatal. Seperti orang-orang lain juga, dokter mengatakan itu semua wajar. Mama tanya lagi, kalau sudah gatal menjurus pedih, dan muncul bercak kemerahan sampai bentol-bentol apa masih wajar? Dokter tetap mengatakan itu wajar, pakai minyak zaitun saja yang banyak, katanya. Keesokan harinya, gatal pedih dan bentol-bentol merah itu mulai menjalar ke paha dan lengan. Mama pun mulai curiga, ini pasti bukan gatal biasa. Maka Mama mengajak Papa ke dokter kulit. Mama malas ke ke dokter kandungan lagi, karena Mama tak suka diperlakukan seolah-olah hanya bisa mengeluh. Dokter kulit memeriksa kulit Mama, dan memberikan krim oles yang aman bagi kehamilan, untuk meredakan gatal. Krim itu lumayan membantu, tidak menyembuhkan, namun Mama jadi bisa tidur karena gatalnya berkurang.

Belum sembuh keluhan di kulit, memasuki 28 minggu kurang 3 hari, Mama merasakan sakit perut yang tak biasa. sakit yang menusuk, di perut kanan bawah. Karena masih sakit ringan, Mama membiarkan saja, namun besoknya sakit itu semakin terasa. Mama khawatir itu usus buntu, maka Mama dan Papa pergi kerumah sakit untuk diperiksa. Dokter berkata itu tak masalah, orang hamil biasa sakit ini dan itu katanya, dan Mama tak boleh mengeluh. Walaupun Mama agak tersinggung diperlakukan seolah-olah Mama pura-pura sakit, namun Mama pun agak tenang karena dokter bilang kamu baik-baik saja dan dari rumah sakit Mama langsung ke kantor.

Malamnya, Mama kesakitan. Sakit perut itu semakin menyebar. Awalnya ringan, namun semakin lama semakin sakit. Saat itu Mama berfikir mungkin kontraksi palsu. namun Mama tak bisa tidur, karena kontraksinya mulai teratur, 25 menit sekali. Nak, Mama banyaak sekali membaca artikel sejak awal kehamilan, dan saat itu Mama tahu, bahwa kontraksi yang Mama rasakan, bukanlah kontraksi palsu. Pagi itu juga, Papa dan Mama berusaha menghubungi hampir semua dokter kandungan di Banda Aceh, tapi mereka semua sedang ikut simposium di Medan. Papa kemudian membawa Mama ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota ini untuk diperiksa. Kontraksi semakin intens disertai flek. Mama panik. 

Setibanya dirumah sakit, para bidan yang menangani Mama hanya memeriksa denyut jantungmu dengan alat yang didekatkan ke perut Mama, kemudian berkata bahwa kamu baik-baik saja. Mama hanya berlebihan, sakit seperti ini biasa bagi orang hamil, dsb dsb. Mama mengatakan bahwa Mama mengalami flek dan kontraksi teratur, namun hanya ditanggapi dengan "Ibu cuma kecapekan, biasa itu, pasti semalam habis begitu-begituan yaa". Sumpah Nak, Mama marah sekali mendengar itu. Mama memang bukan dokter, tapi Mama adalah pemilik badan ini dan Mama bukan seorang pengeluh, Mama tahu kondisinya tidak seringan itu, Mama tahu ada yang tak beres, namun Mama tak bisa berkata apa-apa karena menahan sakit. Setelah para bidan menelpon dokter kandungan yang biasa menangani Mama (mereka yang menelpon dan bicara pada dokter, bukan Mama yang menyampaikan keluhan Mama sendiri pada dokter),  Mama diberikan obat anti kontraksi dan disuruh pulang untuk bedrest. Mama berkeras ingin dirawat, namun para bidan itu meyakinkan Mama bahwa hal seperti ini biasa terjadi.

Pulang kerumah, Mama mencoba istirahat, namun tak bisa karena Mama sangat kesakitan, kontraksi mulai berjarak 15 menit sekali, dan flek sudah berubah menjadi darah. Mama dan Papa mencoba tetap positif, dengan minum obat anti kontraksi yang diberikan tadi. Namun kontraksi semakin intens, akhirnya Mama memohon untuk dibawa lagi kerumah sakit. Papa berusaha mencarikan dokter kandungan, karena Mama tak percaya lagi pada bidan apapun. Akhirnya Papa menemukan seorang dokter yang bisa segera memeriksa Mama.

Setelah diperiksa keadaan umum dan USG, ternyata firasat Mama benar Nak, yang Mama rasakan sejak kemarin adalah tanda akan melahirkan. "Tak mungkin kontraksi muncul tiba-tiba langsung intens, apalagi anak pertama. Ini pasti sudah berlangsung paling tidak 2 hari", kata dokter. Hasil tes menunjukkan leukosit yang agak tinggi, tanda bahwa Mama mengalami infeksi. Mama curiga infeksi itu berasal dari infeksi kulit, yang kemudian entah bagaimana akhirnya menyebabkan kontraksi. Dokter mencoba segala cara untuk menghentikan kontraksi. Injeksi pematang paru, anti kontraksi, antibiotik, dan segala macam jarum dimasukkan kedalam tubuh Mama. Sakit ditusuk-tusuk jarum sudah tak terasa lagi karena Mama bersedia melakukan apapun, apapun Nak, yang penting kamu baik-baik saja. 

Setelah 40 menit berusaha, kondisi Mama tidak membaik, kontraksi sudah nyaris tak bersela, Mama mulai menangis kesakitan, dan dokter memutuskan untuk memeriksa dilatasi. hasilnya, terlambat, bukaan sudah sempurna, kamu harus segera dilahirkan. Hari itu, 18 September 2013, kamu, anak Mama, yang kami panggil Sanju, lahir dengan proses persalinan normal. Tangisanmu meledak sesaat setelah kamu lahir, tangan dan kakimu bergerak-gerak melawan ketika digendong oleh dokter. Mama hanya melihatmu sedetik, ketika dokter kandungan menyerahkanmu ke dokter anak untuk dilarikan ke NICU. kamu begitu mungil.. kecil.. 1,2kg, namun tangisan dan gerak tubuhmu memberi Mama dan Papa harapan besar. "Anakku prematur, kecil, namun lengkap dan sehat, dia akan bertahan, insyaallah", begitulah suara dalam benak Mama. Papa terlihat sangat bahagia, berkali-kali Mama mendengarnya mengucap syukur. dan Mama? saking bahagianya Mama sampai tak merasa sakit ketika dokter melakukan jahitan episotomi.

Malam itu Mama tak bisa tidur sama sekali. Mama teringat Sanju.. Mama ingin sekali menggendong dan segera menyusui Sanju, tapi Mama tahu, bahwa NICU adalah tempat terbaik bagi Sanju saat itu. kamu butuh perawatan ekstra dan pengawasan penuh. Mama menghabiskan malam dengan bersyukur dan berkhayal, jika kamu sudah stabil dan boleh dibawa-bawa, Mama ingin sekali membawamu ikut bersama Mama ke tempat-tempat pengajian Nak.

Esok paginya, 19 September, nenekmu pulang kerumah setelah semalaman menginap dirumah sakit, beliau punya kewajiban lain dirumah, kakekmu masih butuh perawatan. Papa menerima telpon dari NICU, meminta Papa datang ke rumah sakit. Mama ketakutan setiap kali mendengar dering telpon, Mama takut telpon itu membawa kabar buruk. Namun wajah Papa tenang, maka Mama tenang. Tak lama kemudian Papa kembali dan mengatakan dokter memanggilnya untuk meminta persetujuan memasang alat bantu nafas yang lebih canggih padamu, karena kamu terlalu kecil, paru-parumu belum mampu bernafas walau sudah dibantu dengan alat nafas yang regular. Mama bertanya tentang keadaanmu, dan Papa bilang kamu sehat, tak henti-hentinya bergerak, matamu terbuka lebar dan melihat kesana kemari. Papa, dengan ditemani kakekmu yang satu lagi, bahkan sudah membeli beberapa peralatan mandi dan selimut (warna pink, karena itu warna kesukaan Mama, padahal tahu anaknya laki-laki.hehe) dan mengantarnya ke NICU. Papa tak diperbolehkan lama-lama bersamamu, karena kamu dibawah pengawasan dokter.

Menjelang siang,  Papa menerima telpon lagi dari NICU. Mama tak berprasangka apa-apa, namun wajah Papa berbeda. Papa menerima telpon itu diluar kamar perawatan Mama. Papa menyampaikan bahwa kondisimu memburuk. paru-parumu tetap tak mampu bekerja walau sudah dibantu alat, dokter meminta kami berdoa yang terbaik. Mama ketakutan setengah mati Nak. Mama mulai menangis. Papa juga. Kami berdoa dan memohon pada Allah untuk memberimu kesempatan hidup, kesempatan bagi Mama dan Papa untuk melihatmu tumbuh besar. Namun 30 menit kemudian dokter mengabarkan bahwa kamu sudah berpulang..

Dunia Mama seakan runtuh hari itu itu. hati Mama hancur, Mama berteriak-teriak tanpa sadar. Papamu berusaha menenangkan Mama, namun Mama sudah setengah sadar. entah beberapa jam kemudian Mama baru sadar sepenuhnya, ketika Mama sayup-sayup mendengar Papa berkata akan pulang kerumah untuk memakamkanmu. Papa menanyakan sesuatu, yang Mama jawab dengan gelengan, walau Mama tak faham apa pertanyaannya. Mama memohon pada dokter untuk pulang, namun dokter tak mengizinkan karena kondisi fisik Mama yang lemah dan mental yang tak stabil. Papamu pulang setelah menitipkan Mama pada Tante Norma dan Tante Ina.

Setelah 2 malam dirawat, Mama akhirnya bisa pulang. Kakekmu dari pihak Papa beserta beberapa anggota keluarga menjemput Mama dari rumah sakit. setibanya dirumah, orang-orang masih rame yang melayat. semua menangis, meyalami Mama, menyemangati Mama. Mama berusaha tegar di depan orang lain. Mama tak ingin menangis didepan orang lain. Mama berusaha terlihat kuat. Saat itu, Mama bertanya pada Papa, mengapa sebelum dimakamkan, Sanju tak dibawa keruang perawatan dulu untuk bertemu Mama. Papa menjawab, itu piliham Mama. Mama yang menolak ketika ditawarkan untuk melihat Sanju. Ah Nak, ternyata itu pertanyaan Papamu sebelum ia pulang. Mama setengah sadar waktu itu, sehingga menjawabnya dengan gelenganpun Mama tak ingat.

Hanya Papamu dan Allah yang tahu, betapa setiap malam Mama tak bisa tidur karena menangis. Saat itu Mama marah. marah pada dokter di rumah sakit A yang mengatakan Mama hanya berlebihan. marah pada bidan-bidan dirumah sakit B yang mengatakan semua normal-normal saja. marah pada semua dokter kandungan yang pernah Mama datangi selama hamil namun tak ada ketika dibutuhkan. . Mama marah pada diri sendiri yang masih saja melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik yang berat padahal sedang hamil. Mama marah pada diri sendiri yang selama hamil seringkali stress memikirkan pekerjaan dan kondisi kakekmu. Setelah fase marah berakhir, Mama mengalami fase menyesal. menyesal karena merasa bersalah atas kematianmu. Menyesal karena merasa sudah menjadi ibu yang buruk. Mama menyesal dan menyalahkan diri Mama sendiri atas semua yang terjadi. Dan semua fase-fase itu Mama jalani sambil menangis. setiap malam. Mama berhenti menangis karena Papamu, sambil menangis, meminta Mama berhenti.

Sayang, satu hal yang selama ini belum pernah Mama sampaikan kepada siapapun, termasuk Papamu adalah, ketika hamil, Mama punya firasat, bahwa Mama akan kehilanganmu. Mama masih ingat dorongan-dorongan yang kuat dalam diri Mama yang membuat Mama seringkali membuka-buka blog tentang ibu yang kehilangan bayinya, dan bagaimana ia bisa tegar. seringkali Mama tiba-tiba entah bagaimana caranya, menemukan ayat-ayat tentang iman-iman yang diuji. Mama ingat, ketika kamu 20 minggu dalam kandungan, Mama memohon pada Papa untuk pergi ke toko perlengkapan bayi dan membeli perlengkapan untukmu. kata Papa "masih juga 5 bulan, jangan buru-buru". dan Mama menjawab "takut nanti nggak sempat lagi". Entah darimana jawaban itu datang, Mama mengucapkan itu tanpa berfikir. terucap begitu saja. Termasuk ketika beberapa akali USG, kamu selalu menyembunyikan wajahmu. Ketika akan dimakamkanpun, tanpa sadar mama menolak untuk melihatmu.  Setelah kamu berpulang baru Mama tahu, itulah firasat.. Ah Allah memang Maha Tahu, Ia pasti tahu bahwa jika Mama melihatmu, akan semakin sulit bagi Mama untuk Ikhlas..

Allah memang tak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk terlalu lama. Allah mengirimkan seseorang untuk menasehati Mama. Orang tersebut adalah Ummi, ibunya Tante Ina, yang datang kerumah untuk merawat Mama setelah melahirkan. Ummi berkata bahwa saat ruh manusia ditiupkan, di dalam rahim, Allah menunjukkan kepada setiap kita sebuah presentasi, mengenai hidup kita, takdir kita, dan skenario apa yang akan kita jalani dalam hidup. Kemudian Allah memberi kita pilihan, untuk melanjutkan hidup atau kembali kepada Allah sebelum terlanjut berbuat mungkar. dan kamu, Sanju, memilih untuk berpulang. Sejak kamu meninggal, Mama sudah mendengarkan banyak sekali nasehat-nasehat dan petuah, namun nasehat Ummi adalah yang paling mengena di hati Mama. Mengetahui bahwa Allah memberimu pilihan, dan kamu menjalankan apa yang menjadi pilihanmu, membuat Mama sedikit lega. Mama sayang sama Sanju, Papa sayang sama Sanju, namun Allah lebih sayang, sehingga Allah menawarkan pilihan untuk menjagamu dengan tangan-Nya sendiri, dan kamu menyetujuinya..

Nak, 9 bulan sudah sejak kamu mengambil pilihanmu. Mama dan Papa merindukanmu setiap saat. Mama teringat padamu setiap Mama melihat bayi. Terkadang disaat iman Mama sedang fluktuatif, perasaan marah dan menyesal masih kadang-kadang muncul. namun Mama selalu dikuatkan. Papamu Nak, adalah tokoh dibalik ketegaran Mama.

Sanju anakku, Mama yakin kamu tahu bahwa Mama mencintaimu terangat sangat. Mama yakin kamu mencintai Mama juga. Mama yakin kamu tahu bahwa Mama dan Papa sudah berusaha sebaik-baiknya menjagamu. namun nak, Mama tetap ingin meminta maaf. Maafkan Mama jika tanpa Mama sadari, Mama membebanimu. Maafkan Mama nak, yang seharusnya lebih kuat menjagamu, mempertahanmu, membela hak Mama dan hak kamu untuk mendapatkan pengobatan terbaik. Maafkan Mama Nak.. 

Sayangku, cinta dan sayang Mama kepada Sanju takkan cukup dituliskan pada berapa halamanpun. Cinta Mama pada Sanju jauh lebih besar dari apa yang Mama tuliskan disini. Mama mungkin tak sempat melihat, menggendong dan menciummu, namun Mama yakin Sanju faham perasaan Mama, sedalam apa cinta Mama..

Cinta Mama lah yang membuat Mama akhirnya ikhlas melepas Sanju. Cinta Mama lah yang membuat Mama tegar bertahan. Cinta juga menghadirkan kamu di rahim Mama.. Mama dan Papa mempercayakanmu pada Allah, Ia akan menjagamu dengan baik, menjadikanmu malaikat kecil shaleh dan menempatkanmu di syurga-Nya.

Nak, hari-hari Mama dan Papa masih sepi, kami menanti hadirnya adik-adikmu. Semoga Allah berkenan mempercayakan Mama dan Papa anak-anak yang shaleh dan shalehah. kepada mereka nanti akan Mama dan Papa ceritakan kisah tentangmu. Tentang Sanju, abang mereka yang kuat dan hebat.

Baik-baiklah disana Nak.. Mama cinta Sanju..







 

Blog Template by BloggerCandy.com